seperti selotip yang ternoda sidik jari,
seperti jejak sepatu di adonan semen, sedetik sebelum ia mengering,
"sebelum dan sesudah kehadiranmu tidak akan sama," katamu.
"kau baik-baik saja sebelumnya," sahutku tenang, membantah.
"jadi, kau akan tetap baik-baik saja tanpaku."
kau menatapku sekilas, "begitu, dan kau juga akan menjalani hidupmu seperti biasa."
pernyataan itu terdengar seperti pertanyaan untukku.
dan aku benci pertanyaan.
karena kau, aku, sama-sama tahu jawabannya.
Showing posts with label stories. Show all posts
Showing posts with label stories. Show all posts
Thursday, 15 March 2012
Saturday, 23 July 2011
novel?
seperti beberapa cewek pada umumnya, saya juga suka menulis kisah cinta remaja..
oke, sampe sini aja jijay banget ga sih bahasa gue -,- fine, gue mulai nulis cerpen waktu gue kelas 4 sd. yep, taun 2004. pernah nulis alay? pernah. pernah nulis sinteron mode: on? pernah. pernah nulis yang eyd nya ngawur sana sini dan bikin nggak enak dibaca? pernah juga.
terus SMP pertengahan lah, zaman seorang anak abg mulai sok gaul dan menghina-dinakan para alayers, saya ngebaca novel-novel lama saya dan sukses pingsan. ohmydear, itu asli alay tingkat dewa. akhirnya saya pensiun menulis cerita-cerita romantisme kaya gitu sekitar setahun dan beralih ke puisi (seenggaknya kalo di puisi kan boleh dramatis, ya nggak? *wink wink*)
baru waktu peralihan ke SMA saya mulai nyoba nulis novel lagi, salah satunya novel ini yang tidak selesai dan tidak akan pernah selesai :3 untuk orang itu, God bless you, brother! hahaha
lalu ini salah satu karya yang belum selesai juga, karena saya sekarang lebih banyak nulis dalam bahasa inggris tapi saya bertekad mau nyelesein ini karena endingnya udah di otak. yang mungkin tertarik baca, silahkan..
oke, sampe sini aja jijay banget ga sih bahasa gue -,- fine, gue mulai nulis cerpen waktu gue kelas 4 sd. yep, taun 2004. pernah nulis alay? pernah. pernah nulis sinteron mode: on? pernah. pernah nulis yang eyd nya ngawur sana sini dan bikin nggak enak dibaca? pernah juga.
terus SMP pertengahan lah, zaman seorang anak abg mulai sok gaul dan menghina-dinakan para alayers, saya ngebaca novel-novel lama saya dan sukses pingsan. ohmydear, itu asli alay tingkat dewa. akhirnya saya pensiun menulis cerita-cerita romantisme kaya gitu sekitar setahun dan beralih ke puisi (seenggaknya kalo di puisi kan boleh dramatis, ya nggak? *wink wink*)
baru waktu peralihan ke SMA saya mulai nyoba nulis novel lagi, salah satunya novel ini yang tidak selesai dan tidak akan pernah selesai :3 untuk orang itu, God bless you, brother! hahaha
lalu ini salah satu karya yang belum selesai juga, karena saya sekarang lebih banyak nulis dalam bahasa inggris tapi saya bertekad mau nyelesein ini karena endingnya udah di otak. yang mungkin tertarik baca, silahkan..
A
(iya, judulnya 'A'. keberatan? :p)
(iya, judulnya 'A'. keberatan? :p)
dan untuk yang satu ini, termasuk salah satu karya 'terniat' saya yang direncanakan untuk menjadi 9 bab. bab 8 dan 9 selalu menciptakan kontroversial di kalangan temen-temen yang nggak terima sama endingnya, jadilah bab 8-9 bolong sana-sini. yang mau baca monggo, and let me know what you think, okay? ;)
The Heartbreakers
dimohon dengan sangat untuk tidak mengcopy dan mempaste sembarangan, copyright terlindungi (dengan doa dan amal perbuatan)
happy reading! :)
kalo udah capek baca mending segerin mata dulu pake yang artistik-artistik disini (warning: karya masih agak newbie haha)
..and guys, this is.. :')
kalo udah capek baca mending segerin mata dulu pake yang artistik-artistik disini (warning: karya masih agak newbie haha)
..and guys, this is.. :')
hell yeah it's about
fiction based on true story,
i heART this,
indonesian,
personal,
stories
Friday, 24 June 2011
it's just.. unspoken.
two young teenagers sit on silence. avoiding each other's eyes and busy on their mind. drowning. deeper. with some touch of memories which come like knifes. poking, scraping, scratching, and finally undermine their entire defense..
he never make any effort for me, he doesnt even wanna fight for me, he said he miss me but he doesnt do anything, he told me that he loves me, but he never show me enough.
Guy:
i'm tired of never being good enough, why she's asking so much? isnt it just enough that i let her know she's the one and only? i tell her that i love her, and mean it. what should i do then?
Girl:
he never shows that he loves me in front of his guy friends, with those jerks he acts differently, he even doesnt want me to hang out very often with his guy friends.. what else the reason except he's shy and embarrassed being with a girl like me? yes yes, i know i'm not that pretty, that hot, that attractive or that attention-center-diva. whatever boy, doesnt he know that i just wanna make friends, anyway, some of them are funny and i enjoy being around em.
Guy:
for god's sake, there's always always a line beside relationship and friendship. and yes, there's some jackass in my gang but they appreciate me and kind to me. i love them and i dont want to have any problem with you if you figure it out and start commenting or giving me advice about it. i'm avoiding arguments okay? otherwise when i see you hang with them i'm also afraid that you could, probably, fall for one of them who's maybe more gentle than me, or a guitar cutie, or.. hell yes, i'm avoiding that possibility. with a little bit of jealousy. and duh, please stop being so insecure about yourself, you're not just pretty. well, you're beautiful..
Girl:
sometimes i can feel him staring and kinda make me blush, i think he thinks i'm kinda gorgeous.. but why he never tell me that? sometimes i also want to get compliment doesnt he know?
Guy:
to be honest, i'm not that kind of corny-frontal boys, or romantic sorta thingy. i thought she already know by the way i treat you.. otherwise, if she can't accept me just the way i am then why did we even start this?
Girl:
sometimes i want him to start opening up about what he really feels, he seem just okay with everything, even for me it looked like he doesnt care at all.. i want that serious conversation so we both can explain what each other feels.. ah, he'll never be able to get whole mind on those kind of heavy stuff. he prefers having fun around and things. anyway, i think it has no point anymore now..
Guy:
not rarely i've been thinking to spontaneously tell her what's on my mind in some good situation. like, you know, we just enjoy doing our things together and suddenly i pops out something, in kinda joking way so she can accept it positively. but, at the same time i dont think she can.. and now, look at her, she's about to end this.. it's just too late.
Girl:
"We're just, for some reason.. not meant to be, i guess.." But I love you! Please say something to make me stay!
Guy:
"So.. that's what you want.. I, I understand. Wish you a better life and thanks for everything." Damn, I dont know how long will it take to get over this, but I need to appreciate her decision..
(Last hug)
Girl:
(holding tears) it's always like this, i'm the only one who's hurt and he'll just go back to his friends. laughing. totally okay.
Guy:
(looking up, close his eyes) then she's gonna go to her girlfriends, go shopping, flirt to new boys and being just alright. haha yes i knew it..
(Pull over, making some distance and look at each other eyes. Both of them are unreadable, too many emotions there so it's blurred..
Girl:
"Bye." I guess he never really loved me..
Guy:
"Bye." I guess she never really loved me..
originally created by me.
hell yeah it's about
blahs,
english,
fiction based on true story,
muses,
random,
stories,
whatcrossmymind
Saturday, 21 May 2011
THIS IS TRUE STORY! :((
25 tahun yang lalu,
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu.
Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bias terbang”.
Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.
Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.
Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”
17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.
Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”.
Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari pekerjaan ke luar negeri.
Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP.
Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.
Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
“Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
“Sabar ya, Nak!” hiburku.
“Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.
Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.
Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.
Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat.
Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik.
Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud.
Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya.
Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh.
Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
“Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!”
Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati.
Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.
Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
“Kania?”
“Mas Har, kau … !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya? Dia… dia… Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … “
Kania berlari ke arah jenazah anakku.Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.
Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?
Inikah nasib? Terlahir sebagai menantu bukan pilihan. Tapi aku dan Kania harus tetap menikah. Itu sebabnya kami ada di Kantor Catatan Sipil. Wali kami pun wali hakim. Dalam tiga puluh menit, prosesi pernikahan kami selesai. Tanpa sungkem dan tabur melati atau hidangan istimewa dan salam sejahtera dari kerabat. Tapi aku masih sangat bersyukur karena Lukman dan Naila mau hadir menjadi saksi. Umurku sudah menginjak seperempat abad dan Kania di bawahku. Cita-cita kami sederhana, ingin hidup bahagia.
22 tahun yang lalu,
Pekerjaanku tidak begitu elit, tapi cukup untuk biaya makan keluargaku. Ya, keluargaku. Karena sekarang aku sudah punya momongan. Seorang putri, kunamai ia Kamila. Aku berharap ia bisa menjadi perempuan sempurna, maksudku kaya akan budi baik hingga dia tampak sempurna. Kulitnya masih merah, mungkin karena ia baru berumur seminggu.
Sayang, dia tak dijenguk kakek-neneknya dan aku merasa prihatin. Aku harus bisa terima nasib kembali, orangtuaku dan orangtua Kania tak mau menerima kami. Ya sudahlah. Aku tak berhak untuk memaksa dan aku tidak membenci mereka. Aku hanya yakin, suatu saat nanti, mereka pasti akan berubah.
19 tahun yang lalu,
Kamilaku gesit dan lincah. Dia sekarang sedang senang berlari-lari, melompat-lompat atau meloncat dari meja ke kursi lalu dari kursi ke lantai kemudian berteriak “Horeee, Iya bias terbang”.
Begitulah dia memanggil namanya sendiri, Iya. Kembang senyumnya selalu merekah seperti mawar di pot halaman rumah.
Dan Kania tak jarang berteriak, “Iya sayaaang,” jika sudah terdengar suara “Prang”. Itu artinya, ada yang pecah, bisa vas bunga, gelas, piring, atau meja kaca. Terakhir cermin rias ibunya yang pecah. Waktu dia melompat dari tempat tidur ke lantai, boneka kayu yang dipegangnya terpental. Dan dia cuma bilang “Kenapa semua kaca di rumah ini selalu pecah, Ma?”
18 tahun yang lalu,
Hari ini Kamila ulang tahun. Aku sengaja pulang lebih awal dari pekerjaanku agar bisa membeli hadiah dulu. Kemarin lalu dia merengek minta dibelikan bola. Kania tak membelikannya karena tak mau anaknya jadi tomboy apalagi jadi pemain bola seperti yang sering diucapkannya. “Nanti kalau sudah besar, Iya mau jadi pemain bola!” tapi aku tidak suka dia menangis terus minta bola, makanya kubelikan ia sebuah bola.
Paling tidak aku bisa punya lawan main setiap sabtu sore. Dan seperti yang sudah kuduga, dia bersorak kegirangan waktu kutunjukkan bola itu. “Horee, Iya jadi pemain bola.”
17 Tahun yang lalu
Iya, Iya. Bapak kan sudah bilang jangan main bola di jalan. Mainnya di rumah aja. Coba kalau ia nurut, Bapak kan tidak akan seperti ini. Aku tidak tahu bagaimana Kania bisa tidak tahu Iya menyembunyikan bola di tas sekolahnya.
Yang aku tahu, hari itu hari sabtu dan aku akan menjemputnya dari sekolah. Kulihat anakku sedang asyik menendang bola sepanjang jalan pulang dari sekolah dan ia semakin ketengah jalan. Aku berlari menghampirinya, rasa khawatirku mengalahkan kehati-hatianku dan “Iyaaaa”.
Sebuah truk pasir telak menghantam tubuhku, lindasan ban besarnya berhenti di atas dua kakiku. Waktu aku sadar, dua kakiku sudah diamputasi. Ya Tuhan, bagaimana ini. Bayang-bayang kelam menyelimuti pikiranku, tanpa kaki, bagaimana aku bekerja sementara pekerjaanku mengantar barang dari perusahaan ke rumah konsumen. Kulihat Kania menangis sedih, bibir cuma berkata “Coba kalau kamu tak belikan ia bola!”
15 tahun yang lalu,
Perekonomianku morat marit setelah kecelakaan. Uang pesangon habis untuk ke rumah sakit dan uang tabungan menguap jadi asap dapur. Kania mulai banyak mengeluh dan Iya mulai banyak dibentak. Aku hanya bisa membelainya. Dan bilang kalau Mamanya sedang sakit kepala makanya cepat marah.
Perabotan rumah yang bisa dijual sudah habis. Dan aku tak bisa berkata apa-apa waktu Kania hendak mencari pekerjaan ke luar negeri.
Dia ingin penghasilan yang lebih besar untuk mencukupi kebutuhan Kamila. Diizinkan atau tidak diizinkan dia akan tetap pergi. Begitu katanya. Dan akhirnya dia memang pergi ke Malaysia.
13 tahun yang lalu,
Setahun sejak kepergian Kania, keuangan rumahku sedikit membaik tapi itu hanya setahun. Setelah itu tak terdengar kabar lagi. Aku harus mempersiapkan uang untuk Kamila masuk SMP.
Anakku memang pintar dia loncat satu tahun di SD-nya. Dengan segala keprihatinan kupaksakan agar Kamila bisa melanjutkan sekolah. Aku bekerja serabutan, mengerjakan pekerjaan yang bisa kukerjakan dengan dua tanganku.
Aku miris, menghadapi kenyataan. Menyaksikan anakku yang tumbuh remaja dan aku tahu dia ingin menikmati dunianya. Tapi keadaanku mengurungnya dalam segala kekurangan. Tapi aku harus kuat. Aku harus tabah untuk mengajari Kamila hidup tegar.
10 tahun yang lalu,
Aku sedih, semua tetangga sering mengejek kecacatanku. Dan Kamila hanya sanggup berlari ke dalam rumah lalu sembunyi di dalam kamar. Dia sering jadi bulan-bulanan hinaan teman sebayanya. Anakku cantik, seperti ibunya.
“Biar cantik kalo kere ya kelaut aje.” Mungkin itu kata-kata yang sering kudengar. Tapi anakku memang sabar dia tidak marah walau tak urung menangis juga.
“Sabar ya, Nak!” hiburku.
“Pak, Iya pake jilbab aja ya, biar tidak diganggu!” pintanya padaku.
Dan aku menangis. Anakku maafkan bapakmu, hanya itu suara yang sanggup kupendam dalam hatiku. Sejak hari itu, anakku tak pernah lepas dari kerudungnya. Dan aku bahagia. Anakku, ternyata kamu sudah semakin dewasa. Dia selalu tersenyum padaku. Dia tidak pernah menunjukkan kekecewaannya padaku karena sekolahnya hanya terlambat di bangku SMP.
7 tahun yang lalu,
Aku merenung seharian. Ingatanku tentang Kania, istriku, kembali menemui pikiranku. Sudah bertahun-tahun tak kudengar kabarnya. Aku tak mungkin bohong pada diriku sendiri, jika aku masih menyimpan rindu untuknya.
Dan itu pula yang membuat aku takut. Semalam Kamila bilang dia ingin menjadi TKI ke Malaysia. Sulit baginya mencari pekerjaan di sini yang cuma lulusan SMP.
Haruskah aku melepasnya karena alasan ekonomi. Dia bilang aku sudah tua, tenagaku mulai habis dan dia ingin agar aku beristirahat.
Dia berjanji akan rajin mengirimi aku uang dan menabung untuk modal. Setelah itu dia akan pulang, menemaniku kembali dan membuka usaha kecil-kecilan. Seperti waktu lalu, kali ini pun aku tak kuasa untuk menghalanginya. Aku hanya berdoa agar Kamilaku baik-baik saja.
4 tahun lalu,
Kamila tak pernah telat mengirimi aku uang. Hampir tiga tahun dia di sana. Dia bekerja sebagai seorang pelayan di rumah seorang nyonya. Tapi Kamila tidak suka dengan laki-laki yang disebutnya datuk. Matanya tak pernah siratkan sinar baik.
Dia juga dikenal suka perempuan. Dan nyonya itu adalah istri mudanya yang keempat. Dia bilang dia sudah ingin pulang. Karena akhir-akhir ini dia sering diganggu.
Lebaran tahun ini dia akan berhenti bekerja. Itu yang kubaca dari suratnya. Aku senang mengetahui itu dan selalu menunggu hingga masa itu tiba. Kamila bilang, aku jangan pernah lupa salat dan kalau kondisiku sedang baik usahakan untuk salat tahajjud.
Tak perlu memaksakan untuk puasa sunnah yang pasti setiap bulan Ramadhan aku harus berusaha sebisa mungkin untuk kuat hingga beduk manghrib berbunyi. Kini anakku lebih pandai menasihati daripada aku. Dan aku bangga.
3 tahun 6 bulan yang lalu,
Inikah badai? Aku mendapat surat dari kepolisian pemerintahan Malaysia, kabarnya anakku ditahan. Dan dia diancam hukuman mati, karena dia terbukti membunuh suami majikannya.
Sesak dadaku mendapat kabar ini. Aku menangis, aku tak percaya. Kamilaku yang lemah lembut tak mungkin membunuh. Lagipula kenapa dia harus membunuh.
Aku meminta bantuan hukum dari Indonesia untuk menyelamatkan anakku dari maut. Hampir setahun aku gelisah menunggu kasus anakku selesai. Tenaga tuaku terkuras dan airmataku habis. Aku hanya bisa memohon agar anakku tidak dihukum mati andai dia memang bersalah.
2 tahun 6 bulan yang lalu,
Akhirnya putusan itu jatuh juga, anakku terbukti bersalah. Dan dia harus menjalani hukuman gantung sebagai balasannya. Aku tidak bisa apa-apa selain menangis sejadinya. Andai aku tak izinkan dia pergi apakah nasibnya tak akan seburuk ini? Andai aku tak belikan ia bola apakah keadaanku pasti lebih baik? Aku kini benar-benar sendiri. Wahai Allah kuatkan aku.
Atas permintaan anakku aku dijemput terbang ke Malaysia. Anakku ingin aku ada di sisinya disaat terakhirnya. Lihatlah, dia kurus sekali. Dua matanya sembab dan bengkak. Ingin rasanya aku berlari tapi apa daya kakiku tak ada. Aku masuk ke dalam ruangan pertemuan itu, dia berhambur ke arahku, memelukku erat, seakan tak ingin melepaskan aku.
“Bapak, Iya Takut!” aku memeluknya lebih erat lagi. Andai bisa ditukar, aku ingin menggantikannya.
“Kenapa, Ya, kenapa kamu membunuhnya sayang?”
“Lelaki tua itu ingin Iya tidur dengannya, Pak. Iya tidak mau. Iya dipukulnya. Iya takut, Iya dorong dan dia jatuh dari jendela kamar. Dan dia mati. Iya tidak salah kan, Pak!”
Aku perih mendengar itu. Aku iba dengan nasib anakku. Masa mudanya hilang begitu saja. Tapi aku bisa apa, istri keempat lelaki tua itu menuntut agar anakku dihukum mati.
Dia kaya dan lelaki itu juga orang terhormat. Aku sudah berusaha untuk memohon keringanan bagi anakku, tapi menemuiku pun ia tidak mau. Sia-sia aku tinggal di Malaysia selama enam bulan untuk memohon hukuman pada wanita itu.
2 tahun yang lalu,
Hari ini, anakku akan dihukum gantung. Dan wanita itu akan hadir melihatnya. Aku mendengar dari petugas jika dia sudah datang dan ada di belakangku. Tapi aku tak ingin melihatnya.
Aku melihat isyarat tangan dari hakim di sana. Petugas itu membuka papan yang diinjak anakku. Dan ‘blass” Kamilaku kini tergantung. Aku tak bisa lagi menangis. Setelah yakin sudah mati, jenazah anakku diturunkan mereka, aku mendengar langkah kaki menuju jenazah anakku. Dia menyibak kain penutupnya dan tersenyum sinis.
Aku mendongakkan kepalaku, dan dengan mataku yang samar oleh air mata aku melihat garis wajah yang kukenal.
“Kania?”
“Mas Har, kau … !”
“Kau … kau bunuh anakmu sendiri, Kania!”
“Iya? Dia… dia… Iya?” serunya getir menunjuk jenazah anakku.
“Ya, dia Iya kita. Iya yang ingin jadi pemain bola jika sudah besar.”
“Tidak … tidaaak … “
Kania berlari ke arah jenazah anakku.Diguncang tubuh kaku itu sambil menjerit histeris. Seorang petugas menghampiri Kania dan memberikan secarik kertas yang tergenggam di tangannya waktu dia diturunkan dari tiang gantungan. Bunyinya “Terima kasih Mama.” Aku baru sadar, kalau dari dulu Kamila sudah tahu wanita itu ibunya.
Setahun lalu,
Sejak saat itu istriku gila. Tapi apakah dia masih istriku. Yang aku tahu, aku belum pernah menceraikannya. Terakhir kudengar kabarnya dia mati bunuh diri. Dia ingin dikuburkan di samping kuburan anakku, Kamila.
Kata pembantu yang mengantarkan jenazahnya padaku, dia sering berteriak, “Iya sayaaang, apalagi yang pecah, Nak.” Kamu tahu Kania, kali ini yang pecah adalah hatiku. Mungkin orang tua kita memang benar, tak seharusnya kita menikah. Agar tak ada kesengsaraan untuk Kamila anak kita. Benarkah begitu Iya sayang?
hell yeah it's about
indonesian,
lagi bener,
stories,
what amused me
Saturday, 7 May 2011
sepenggal memori tentang orang itu
haha judulku --"
oke, akhir akhir ini saya jadi suka bernostalgila :)) saya menemukan arsip-arsip terlupakan di hard disk saya (sistem filing saya memang berantakan --" habis file nya banyak bangeeeet *excuses hahah) ada satu novel tidak selesai yang terinspirasi dari dia. oke, berikut cuplikan cuplikannya :D
Vero
Aku menatap sekeliling tanpa ekspresi. Yah, memangnya mau bagaimana lagi? Toh aku sudah terlalu familiar dengan lingkungan ini. Nyaris tidak ada hal yang baru. Meja-kursi yang sama, interior yang sama, taman-taman yang sama. Hanya seragam yang berbeda, dulu biru sekarang abu-abu.
Apa sih yang menarik jadi anak SMA? Kayaknya aku nggak ngerasain apapun deh. Semua sama aja. Apalagi aku harus terdampar di sekolah ini lagi, sekolah ini lagi. Bukannya aku nggak suka sih, tapii, yah, bosen aja. Nggak salah kan?
❀❀❀
Val
Oh great. Hari ini bener-bener sempurna. Hari pertama masuk sekolah, aku udah ditanya guru-guru soal kakakku. Yeah, siapa juga yang nggak bosen ditanya itu lagi, itu lagi. Tapi yang lumayan spesial ada sih, tadi aku liat cewek cantiiik banget. Gila, kayak bersinar gitu di antara yang lain, putih banget, trus bibirnya itu! Agak blasteran juga kayaknya. Sayang aku belum sempet nanya anak-anak soal cewek itu. Namanya siapa ya?
❀❀❀
valvintage: Lan?
valvintage: Besok bawain barangnya ya?
valvintage: Aku udah ada duitnya tenang aja hehe
valvintage: Oke, les?
allevero77: hah?
allevero77: siapa nih?
allevero77: udah nggak kenal, nyasar lagi.
valvintage: Halaaah
valvintage: Pokoknya besok bawa ya hehe kamu kan sales kelas :D *peace
allevero77: maaf ya mbak atau mas siapapun disana, anda salah orang
valvintage: Ya ya terserah, peer udah selesai lan?
allevero77: buset nih orang
allevero77: --"
allevero77: alan x-1 maksudmu? ini bukan alan
allevero77: ini vero x-4
valvintage: SERIUS?
valvintage: Kamu nggak bohong kan?
allevero77: nggak lah hahaha penting apa boong segala
valvintage: My God
valvintage: Yaampun sori sori
allevero77: :))
allevero77: hahaha nggakpapa
allevero77: kok bisa nyasar sih? nih id nya: alanpr
allevero77: jauh lho alan sama allevero77 --a sama al-nya doang
valvintage: Gila malu banget
valvintage: Hehe ya soalnya tadi ngerjain peer bareng anak anak trus ngeliat Ivan lagi chat sama allevero
valvintage: Diskusi soal biologi
valvintage: Ya aku kira itu alan sih
valvintage: Pulang langsung ngeadd hahahaha
allevero77: =))
allevero77: oke oke hahhaha
allevero77: btw, ini val x-1 kan?
valvintage: Iya :)
valvintage: Oya udah nonton ini belum..
allevero77: belum, emang bagus?
...
❀❀❀
"Kamu dichat Val?" Tatapan anak itu menusuk. Oh yaampun, Vero lupa sama sekali kalo anak itu yang punya id ym dan nomer hapenya Val tapi males banget mau ngasih sama orang lain. Glek.
"Hehe, iya. Nyasar aja kok. Hahahaha sukanya kok sama anak kayak gitu sih?"
Dia tidak menghiraukan, "Gimana-gimana? Liat history nya dong!"
"Yah, aku kan chatnya di rumah, Zur."
"Besok bawa laptopmu dooong. Ya? Ya? Ya?"
"Hah? Besok itu ada kimia, bawa modul. Bahasa Inggris, bawa kamus. Biologi sama Mat, bukunya tebelnya kayak apa. Nggak, nggak. Aduuh itu tuh biasa aja, dia ngira aku Alan."
"Gitu doang?"
"Hmm, ya iya gitu doang. Hehe, emangnya mau gimana lagi?"
❀❀❀
”Yeah, itu malu-maluin banget tau nggak.” Val meremas rambutnya, setengah ketawa mengingat kebodohannya kemarin. ”Emang yang mana sih tuh cewek?” pandangan Reza segera terarah ke depan. ”Yang lagi jadi MC itu lho, Val!"
❀❀❀
Vero
Aku bengong. Pengen ketawa tapi nggak enak ngeliat ekspresi Ava serius gitu. Tapi toh akhirnya aku ngakak juga. ”Ya ampun, Va. Anak kayak dia itu mana mungkin sih suka sama aku? Cewek di dunia ini bejibun, say. Dan yang lebih baik dari aku juga segudang. Dia kan eksis tuh, masa sama aku sih? Aku bukan levelnya dia kaliii.”
Sejujurnya, alesannya adalah aku males banget. Gila itu anak jaimnya selangit, padahal udah temenan enak-enak juga. Dan kayaknya dia agak tersinggung gitu waktu tau aku ngga seberapa ngerti mukanya. Maklum doong jarang liat, emang aku kayak anak-anak cewek lain doyannya nongkrongin kelas x-1 sama x-2? Whoa, kayak nggak ada yang lebih penting aja.
❀❀❀
“Tapi emang kenapa sih Ver? Apa yang kurang dari seorang Val?” Vero menghentikan langkah. ”Nggak ada manusia yang sempurna, Shin. Kamu jangan memuja dia gitu dong.” Shinta mendesah,”Ya tapi kan dia nyaris, Ver. Ganteng, pinter, anak baik-baik juga.” Vero menoleh tanpa minat, ”Ya terserah aja sih kamu mau ngomong apa. Mungkin justru karena dia terlalu sempurna itu makanya aku nggak tertarik.” Shinta menatap heran, Vero balas menatapnya sinis, lagi-lagi mengeluarkan kalimat pamungkas, ”Levelnya beda sama aku, jenderal!”
Vero menutup lokernya, menyisakan bedebum keras. Dengan langkah lebar dia menuju kelas. Shinta mengekor dari belakang. Masih terus nyerocos soal makhluk bernama Val itu.
Nggak salah emang kalo anak-anak pada ngebicarain para ”anak baru” sebenernya bukan baru sih, mereka sama-sama masuk di kelas 10 tapi karena mereka dulunya bukan dari SMP XX jadilah mereka sebagai wajah-wajah baru untuk penyegaran. Nggak cuma Val sebenernya, ada Ray, Tian, Eldo dan masih ada beberapa lainnya. Tapi karena Val punya kakak di SMA XX yang sama populernya, Evan, jadi nama dia juga beken banget. Kadang Vero kasian, apa nggak terbebani ya selalu dibilang, ”Oh, Val yang adeknya Kak Evan ya?” padahal nama Val di XX juga cuma ada satu, tapi rasanya nggak lengkap aja kalo nggak ditambahin identitas ’adeknya Kak Evan’.
"Val itu ganteng ya, Ver." *masih agak kalem*
"Gayanya itu lho, cuek, agak sombong, bikin geregetan!" *tampang gemes*
"Tinggi, pinter, alim juga gitu kan, huah pokoknya the best Ver!!" *mata berbinar*
Daaaan seterusnya.
Vero mendengarkan dalam diam, tangannya sibuk mengetik sms balasan sambil sesekali tersenyum.
❀❀❀
"Dia itu udah jadian. Barusan aja."
Iya aku juga udah tau.
"Haha, oya? So? Kita kan cuma temenan."
❀❀❀
"Idih yang chat-an tiap hariii.."
"Vero mendongak menemukan tatapan Azury yang jelas jelas memasang ekspresi sinis.
"Haha, tenang aja Zur, dia safe kok. Bahkan dari aku hahhaha."
Zury mengerinyit, "Maksudmu?"
"Satu, dia single. Dan available, well dulu dia emang sempet suka sama anak sih, tapi udah enggak."
Azury mengerjapkan matanya. Sekali.
"Kedua, aku udah jadiaaan."
"SUMPAAAAH? Omyyy, congrats yaaa, gimana? Kapan? Pejeeee."
Sejenak mereka sibuk tentang euphoria Vero-akhirnya-punya-pacar itu. Sebelum tatapan Azury terpusat di satu spot lalu menoleh ke arahnya penuh makna, "Itu Val! duh ganteng banget yaaa. Tingginya, putihnya, gaya jalannya Ver, Ver! Liat!"
Vero memutar bola matanya. Duh, ganteng standar! Tipikal gitu loh, dimana-mana deskripsi cowok ganteng ya begitu itu. Lagian kalo emang suka kenapa yang disebutin fisik doang coba? Dia kan ada sisi lainnya. Baik lah lumayan, sense of humor sama sarcasmnya mantep haha. Selera musiknya juga jempolan.
Vero tertegun sejenak, lalu mendengus pelan.
Bodo ah, nggak peduli.
❀❀❀
Val
Namanya Celine. But she’s unavailable saudara-saudara yang terhormat! Hiks, yeah dia udah punya cowok. Nggak heran sih sebenernya, makhluk secantik dia gitu. Wajar aja. Cuma cowoknya itu lho! Gila si Celine, nggak bisa nyari yang bagusan dikit apa? Mending ganteng, standar gitu. Mana jahat banget pula sama Celine-nya. Ditinggal-tinggal mulu, sekalinya dateng sok romantisnya kayak apa. Hih.
Eh yang namanya Vero itu asik juga. Nggak jaim kayak cewek kebanyakan. Oke-oke, akunya yang jaim. So? Kalo aku jaim ceweknya juga jaim nggak ada obrolan dong?
Tapi yaah, nggak ada apa apa sih. Cuma seru aja punya temen ngobrol tiap hari. Dia lumayan menyenangkan haha. Udah ah.
❀❀❀
Benda itu.
Vero terpaku, kesadarannya seakan terseret ke dimensi dan waktu yang lain. Pelan, tangannya terulur meraihnya. Merasakan besinya, menyentuhkan permukaannya yang dingin ke pergelangan tangan, menekan perlahan..
"VERO!"
Seketika ia tersentak, tatapannya menoleh menemukan mata Val yang hitam, sarat oleh kemarahan.
"Ngapain kamu?"
"Oh, enggak. Mainan doang kok ini hehe."
"Nggak, aku liat kok ekspresimu."
"Mainan doang kok, beneran."
"Ver, yang kamu lakuin tuh.."
"ECIYEEE, ngapain disini?"
Vero dan Val menoleh, menemukan segerumbulan anak yang sibuk bercie-cie dan berihi-ihi sebelum akhirnya,
"Ver, laper nih. Tuh mbakmu udah nyiapin, kan kasian kalo makanannya dingin trus nggak dimaem, ya nggak?" kata Irsyad dengan cengiran persuasifnya.
Vero tersenyum kecil, "Dasar. Hahaha, yaudah ayo."
Val menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu mengendikkan bahu dan berjalan mengikuti mereka.
August 28, 2009
WUAW :o :O :O
Okeee untung aja tuh novel nggak selesai hahaha, emm sebenernya part part bawahnya masih ada sih. tentang perang status. tentang gimana 'Azury' marah sama 'Vero' karena untuk kedua kalinya 'merebut' gebetannya. duh, terlalu banyak tanda kutip. tentang Vero yang ngerasa nggak pantes buat Val DAN Val yang ngerasa nggak pantes buat Vero. tentang permainan tanda seru di conference biar keliatan kayak lagi berantem. tentang pengakuan-pengakuan. tentang ending? tidak saya tulis.
good times, you know?
tapi yang namanya memori memang bagusnya disimpan, diambil pelajarannya dan dihargai karena bagaimanapun kita pernah bahagia.
alhamdulillah kamu udah nemuin yang lebih tepat, lebih pantas, dan lebih berhak ada di posisi itu. bukan seseorang yang perasaannya belum pasti.
dan alhamdulillah juga aku sudah menemukan dia.
sama-sama yang terbaik buat kita, insyaAllah :)
hell yeah it's about
fiction based on true story,
indonesian,
memories wont hurt,
stories
Subscribe to:
Posts (Atom)
